Mendapat Nilai Terbaik di Angkatan Ke 5, Miftahul Jannah Fokus Ikuti Tes di Universitas Lampung
KEDONDONG | Halomedan.co
Sebanyak tiga puluh empat santri dan fatayat Pondok Modern Daarul Ikrom Kedondong telah diwisuda, Ahad (7/5/2023).
Dari ketiga puluh empat santri dan fatayat itu, sebanyak tiga belas orang diberi predikat Mumtaz, dua puluh orang jayyid jiddan dan seorang lagi mendapat predikat jayyid.
Ketiga belas santri dan fatayat yang diberi predikat mumtaz (baik sekali), terdapat seorang Fatayat menduduki peringkat tertinggi. Adalah Miftahul Jannah, Fatayat Pondok Modern Daarul Ikrom Kedondong asal Desa Sukamandi, Way Lima, Pesawaran, Lampung.
Anak pertama dari dua bersaudara atas pasangan Bapak Mahfuddin dan Ibu Nuryani itu mengungguli perolehan nilai seluruh teman seangkatannya. Miftah memasuki Pondok Modern Daarul Ikrom Kedondong melalui jalur Tamhidi (eksperimen).
Berbagai kompetisi telah diikuti fatayat yang memiliki tinggi 163 cm itu. Tidak hanya menjadi peserta, Mita (sapaan akrabnya) beberapa kali berhasil meraih medali dalam setiap kompetisi tersebut.
Seperti Kompetisi Sains Madrasa (KSM) tingkat kabupaten dan provinsi Lampung, Mita berhasil meraih juara 2 di mata pelajaran Geografi Terintegrasi tahun 2021 lalu.
Selain itu, di tahun yang sama Mita juga mendapat medali juara 3 dari Olimpiade tingkat nasional Bahasa Inggris dan Olimpiade tingkat nasional mata pelajaran ekonomi.
“Yang mendapat nilai tertinggi (mumtaz) angkatan ke 5 Pondok Modern Daarul Ikrom Kedondong adalah Miftahul Jannah binti Mahfuddin,” ucap Direktur Ma’had Tarbiyah Islamiyah Al ‘Asriyah (MTIA) yang disambut gemuruh tepuk tangan seluruh santri, fatayat dan para tamu undangan.
Baca Juga:
Kepada PMDI Media, Mita mengaku terkejut atas perolehannya tersebut. Menurutnya, teman seangkatannya yang tergabung dalam The Al Dzafaesha Generation sangat bersaing dalam memperoleh nilai terbaik.
“Saya bersyukur, Alhamdulillah diberi nilai terbaik. Nggak nyangka sama sekali. Karena teman-teman yang lain juga pinter-pinter,” tuturnya.
Mita mengungkapkan, pilihannya untuk masuk ke Pondok Modern Daarul Ikrom Kedondong merupakan dorongan dari orang tuanya. Semula, Mita mengaku ingin bersekolah di tempat lain.
“Orang tua yang menyuruh masuk pondok, Saya ngikut aja. Sebenarnya nggak kepingin masuk pondok. Tapi setelah di jalani, Alhamdulillah betah di pondok,” lanjutnya.
Sementara Mahfuddin, orang tua Mita mengaku tidak mengetahui istilah mumtaz. Dirinya hanya bertepuk tangan saat melihat putri sulungnya dipanggil ke atas panggung untuk diberi penghargaan.
“Saya pikir dipanggil biasa aja. Terus saya dikasi tau wali santri lain kalau mumtaz itu nilai terbaik. Saya sedikit terharu, bangga dengan Mita,” ucap Mahfuddin.
Ayah dua orang anak itu pun tidak segan memberikan pujian terhadap putrinya itu.
“Kerja keras ayah sebagai seorang buruh terbayarkan nak,” ucap Mahfuddin terhadap Mita.
Baca Juga:
Kini, Mita hendak melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Universitas Bandar Lampung menjadi target Mita selanjutnya. Melalui jalur seleksi nasional berbasis tes (SNBT), Mita mengaku fokus belajar untuk dapat memasuki universitas negeri itu.
“Senang-senangnya udah dulu, haru-harinya disimpen dulu. Sekarang saya mau fokus untuk ujian SNBT. Saya pilih jurusan Teknik Geofisika dan Pendidikan Fisika. Mudah-mudahan bisa dilalui ujiannya dan masuk Unila,” harapnya.(W02)