Jumat, 25 September 2026

Sekali Lancung ke Ujian, Seumur Hidup Orang Tak Percaya

Administrator
Minggu, 01 Februari 2026 08:55 WIB
Sekali Lancung ke Ujian, Seumur Hidup Orang Tak Percaya
Istimewa

Oleh: H Syahrir Nasution

"Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya."

Petuah lama ini bukan sekadar rangkaian kata bijak, melainkan peringatan keras lintas zaman tentang harga mahal dari sebuah kebohongan.

Orang-orang tua dahulu menyampaikannya sebagai warning bagi anak-anak yang mulai beranjak dewasa: sekali saja seseorang berbohong—baik dalam ucapan maupun perilaku—maka kepercayaan akan runtuh. Dan ketika kepercayaan runtuh, yang tumbang bukan hanya reputasi sesaat, melainkan martabat yang dibangun seumur hidup.

Kepercayaan adalah mata uang sosial paling berharga. Ia tidak tercipta dalam semalam, namun bisa hancur hanya oleh satu tindakan tidak jujur. Ironisnya, luka akibat kebohongan sering kali tak sembuh oleh waktu. Bahkan setelah pelakunya tiada, ingatan kolektif publik tetap menyimpannya. Stigma itu bisa menurun, melekat pada keturunan dan asal-usulnya. Sebuah warisan yang pahit, hanya karena satu kesalahan moral.

Di sinilah kita diingatkan: kejujuran bukan urusan pribadi semata, melainkan tanggung jawab sosial dan historis.

Lebih jauh, petuah ini relevan ketika kita berbicara tentang kepemimpinan. Menjadi pemimpin bukan perkara mudah. Ia tidak cukup hanya bermodalkan tampang, retorika, popularitas, atau jam terbang panjang dalam dunia birokrasi dan politik. Ada satu hal fundamental yang kerap terabaikan: watak (character).

Watak tidak lahir dari pencitraan. Ia terbentuk dari proses panjang sejak kecil—dari didikan keluarga, keteladanan orang tua, dan terutama pendidikan agama yang ditanamkan sejak dini. Dari sanalah seseorang belajar membedakan benar dan salah, jujur dan culas, amanah dan khianat.

Pemimpin yang kehilangan integritas, sejatinya telah kehilangan legitimasi moral. Ia mungkin masih berkuasa, namun tak lagi dipercaya. Dan pemimpin tanpa kepercayaan publik hanyalah sosok yang berdiri di atas bayang-bayang kekuasaannya sendiri.

Sejarah mencatat, bangsa-bangsa runtuh bukan semata karena miskin sumber daya, tetapi karena krisis kepercayaan pada para pemimpinnya. Ketika kebohongan dinormalisasi, ketika pelanggaran etika dianggap lumrah, maka kehancuran tinggal menunggu waktu.

Karena itu, petuah lama ini patut kita hidupkan kembali, bukan hanya sebagai nasihat personal, tetapi sebagai prinsip berbangsa dan bernegara. Kejujuran adalah fondasi. Integritas adalah tiang penyangga. Tanpa keduanya, kepemimpinan hanyalah ilusi.

Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.

Dan dalam kepemimpinan, sekali berkhianat pada kejujuran, sejarah tak akan lupa.***

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Administrator
Sumber
:
SHARE:
Tags
Berita Terkait
BP BUMN Salurkan Tali Asih Untuk Keluarga Jurnalis-ABK Arupadatu I

BP BUMN Salurkan Tali Asih Untuk Keluarga Jurnalis-ABK Arupadatu I

Teguh Santosa: JMSI Dukung Penuh HPN 2027

Teguh Santosa: JMSI Dukung Penuh HPN 2027

Muktarrudin Usman Nahkodai KSMI Aceh, Tekad Kembangkan Sepakbola Mini

Muktarrudin Usman Nahkodai KSMI Aceh, Tekad Kembangkan Sepakbola Mini

Polda Sumut Tetapkan 10 Tersangka Pengrusakan dan Penganiayaan di Humbahas

Polda Sumut Tetapkan 10 Tersangka Pengrusakan dan Penganiayaan di Humbahas

Dari Climate Summit PBB, Menteri LH: Presiden Prabowo Subianto Lakukan Langkah Nyata Pengendalian Perubahan Iklim

Dari Climate Summit PBB, Menteri LH: Presiden Prabowo Subianto Lakukan Langkah Nyata Pengendalian Perubahan Iklim

HUT KADIN ke-58 di Medan, Pemprov Sumut dan Dunia Usaha Perkuat Sinergi Ekonomi

HUT KADIN ke-58 di Medan, Pemprov Sumut dan Dunia Usaha Perkuat Sinergi Ekonomi

Komentar
Berita Terbaru