Dari Dapur Lokal ke Standar Global, Sertifikasi Chef Nasional Digelar di Medan
Medan — Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor kuliner nasional terus dipercepat. Pasatama Institute menggelar Pelatihan berbasis kompetensi BNSP skema Sertifikasi Chef de Partie dan Executive Chef (Batch 22) di Hotel GranDhika Setiabudi Medan, pada 25–26 April 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi nasional dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG), dengan memastikan standar pengolahan makanan memenuhi aspek gizi, sanitasi, dan profesionalisme setara industri perhotelan.
Program sertifikasi ini sebelumnya telah digelar di sejumlah kota besar seperti Bekasi, Bandung, Depok, Jakarta, Sidoarjo, dan Solo, sebelum akhirnya menyasar Medan sebagai titik penguatan di wilayah Sumatera.

Standarisasi Jadi Kunci Program Gizi Nasional
Asesor Kompetensi Industri Jasaboga, LSP Jasaboga Nusantara-BNSP sekaligus Direktur Utama Pasatama Institute, Coach Arsyam, menegaskan bahwa keberhasilan program gizi nasional sangat bergantung pada kualitas SDM di dapur.
"Setiap makanan dalam program MBG harus memenuhi standar nutrisi sekaligus diolah dengan manajemen dan sanitasi profesional. Ini tidak bisa ditawar," ujarnya.
Menurutnya, kebutuhan akan tenaga kerja tersertifikasi semakin mendesak, seiring meningkatnya tuntutan industri terhadap kualitas dan keamanan pangan.
Sertifikasi Menyasar Seluruh Rantai Produksi,
Tak hanya chef, program ini juga menyasar relawan SPPG melalui sertifikasi Food Handler (Penjamah Makanan). Langkah ini bertujuan memastikan seluruh proses produksi—dari persiapan hingga penyajian—memenuhi standar food hygiene dan food safety.
Pelatihan mencakup materi teknis hingga uji kompetensi, termasuk pengendalian titik kritis (Critical Control Point/CCP), pencegahan kontaminasi silang, serta manajemen operasional dapur.
Kolaborasi Nasional Perkuat Ekosistem Kuliner
Kegiatan ini melibatkan berbagai organisasi profesi, seperti: LSP Jasa Boga Nusantara
Indonesian Chef Association (ICA), Chef Pro Indonesia dan ASPPMI, kolaborasi ini dinilai penting untuk membangun ekosistem sertifikasi yang kredibel dan terintegrasi dengan kebutuhan industri.
Kompetensi Nyata, Bukan Sekadar Sertifikat
Dalam sesi pelatihan, Coach Arsyam menekankan bahwa sertifikasi tidak boleh dipandang sebagai formalitas administratif semata.
"Industri tidak hanya butuh kertas, tapi kemampuan nyata. Chef harus menguasai teknik, manajemen dapur, hingga kepemimpinan," tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan soft skill seperti komunikasi dan kerja tim, yang menjadi tuntutan utama di industri perhotelan modern.
Disiplin Dapur dan Keamanan Pangan
Ketua ICA BPD Sumatra Utara, Chef Hasan Basri, menegaskan bahwa disiplin dapur merupakan fondasi utama dalam menjaga kualitas makanan.
"Dapur bukan tempat umum. Semua yang masuk harus memenuhi standar. Jika terjadi kesalahan, chef yang bertanggung jawab," ujarnya.
Ia menambahkan, penerapan standar seperti penggunaan alat pelindung diri, kebersihan, serta prosedur kerja menjadi bagian tak terpisahkan dari profesionalisme.
Bangun Daya Saing Global dari Daerah
Puluhan peserta dari berbagai daerah di Sumatera Utara, seperti Padanglawas, Dairi, Stabat, dan Deli Serdang, mengikuti pelatihan ini. Mereka menjalani pembekalan intensif guna memenuhi standar nasional yang diakui industri.
Dengan sertifikasi resmi dari BNSP, para peserta diharapkan mampu meningkatkan daya saing, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga global.
"Target kita jelas: kompetensi, legalitas, dan daya saing. SDM kuliner Indonesia harus siap bersaing di level internasional," pungkas Coach Arsyam.rel