Sabtu, 20 Juni 2026

Menghidupkan Kembali “Kompas Intelektual” yang Lahir di Tanah Mandailing

Administrator
Sabtu, 20 Juni 2026 14:13 WIB
Menghidupkan Kembali “Kompas Intelektual” yang Lahir di Tanah Mandailing

Oleh: H. Syahrir Nasution, SE, MM, Gelar Sutan Kumala Bulan



Di tengah derasnya arus perubahan zaman, masyarakat Mandailing patut kembali menengok sosok besar yang telah menyalakan obor pendidikan jauh sebelum Indonesia merdeka. Sosok itu adalah Willem Iskander, putra terbaik Mandailing yang lahir dengan nama asli Sutan Sati Nasution.
Willem Iskander bukan sekadar seorang guru atau tokoh pendidikan biasa. Ia merupakan "kompas intelektual" yang lahir dari Tanah Mandailing dan berhasil menunjukkan arah masa depan bangsanya melalui pendidikan. Pada masa penjajahan Belanda, ketika sebagian besar rakyat masih terkungkung oleh keterbelakangan, kemiskinan, dan sistem feodalisme, Willem Iskander telah berpikir jauh melampaui zamannya.
Ia menyadari bahwa kemerdekaan sejati tidak hanya diperoleh melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pembebasan pikiran. Pendidikan menjadi jalan yang diyakininya mampu mengangkat martabat manusia dari belenggu kebodohan dan ketertinggalan.
Dari sudut pandang masyarakat awam pada masa itu, perjuangan Willem Iskander mungkin terlihat luar biasa bahkan sulit dipahami. Banyak orang terheran-heran melihat kegigihan dan semangatnya yang begitu besar untuk mengubah nasib anak-anak Mandailing. Namun di balik semua itu, tersimpan cita-cita mulia agar generasi penerus tidak terus-menerus menjadi korban sistem feodalisme dan penjajahan yang mengekang perkembangan intelektual masyarakat.
Berangkat dari niat yang tulus dan keikhlasan yang mendalam, Willem Iskander menempuh pendidikan ke Belanda. Langkah tersebut bukan untuk mengejar kemegahan pribadi, melainkan sebagai bekal untuk membangun tanah kelahirannya. Ia memahami bahwa ilmu pengetahuan merupakan modal utama dalam membangun peradaban yang maju.
Sekembalinya dari Belanda, Willem Iskander mendirikan Kweekschool atau Sekolah Guru di Tanah Mandailing. Lembaga pendidikan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan Sumatera dan Indonesia. Melalui sekolah tersebut, lahir guru-guru yang kemudian menyebarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas.
Peran inilah yang menjadikan Willem Iskander layak disebut sebagai "Ompung dari Ompung Guru-Guru". Sebab, melalui gagasan dan dedikasinya, ia telah melahirkan generasi pendidik yang kemudian menjadi mata rantai kemajuan bangsa.
Jejak perjuangannya menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya proses transfer ilmu, melainkan gerakan peradaban. Ia ingin memastikan bahwa anak-anak bangsa tidak selamanya hidup dalam kebodohan dan kemiskinan. Pendidikan harus menjadi alat pembebasan sosial dan jalan menuju kemajuan.
Karena itu, sudah sepantasnya bangsa Indonesia memberikan penghormatan yang lebih besar kepada Willem Iskander. Secara moral dan historis, banyak kalangan menilai bahwa beliau telah memenuhi syarat sebagai pahlawan pendidikan nasional. Jika saat ini masyarakat telah mengakui jasa-jasanya secara de facto, maka pengakuan secara de jure sebagai Pahlawan Nasional menjadi harapan yang masih terus diperjuangkan.
Ironisnya, di luar negeri, khususnya Belanda yang pernah menjajah Indonesia, nama Willem Iskander justru mendapat perhatian dalam sejarah pemikiran pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa gagasan dan karya-karyanya memiliki nilai universal yang melampaui batas ruang dan waktu.
Hari ini, ketika dunia pendidikan menghadapi berbagai tantangan baru, semangat Willem Iskander kembali relevan untuk dihidupkan. Mandailing tidak boleh kehilangan kompas intelektual yang pernah diwariskan oleh putra terbaiknya. Generasi muda harus mengenal sejarah perjuangannya, memahami pemikirannya, dan melanjutkan cita-citanya untuk membangun masyarakat yang cerdas, berkarakter, serta berdaya saing.
Sebagai salah satu keturunan dari almarhum Guru Madong Lubis, penulis memandang bahwa warisan terbesar Willem Iskander bukanlah bangunan sekolah atau catatan sejarah semata, melainkan semangat untuk menjadikan pendidikan sebagai jalan perubahan. Semangat itulah yang harus terus dijaga agar Tanah Mandailing tetap menjadi rahim yang melahirkan pemikir, pendidik, dan pemimpin bangsa di masa depan.
Willem Iskander telah menyalakan pelita. Tugas generasi hari ini adalah memastikan cahaya itu tidak pernah padam.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Administrator
Sumber
:
SHARE:
Tags
Berita Terkait
APA YANG HILANG DARI TANAH MANDAILING???

APA YANG HILANG DARI TANAH MANDAILING???

Sejarah Identitas Kesultanan Mandailing : Akar Suku Bangsa Yang Berdaulat

Sejarah Identitas Kesultanan Mandailing : Akar Suku Bangsa Yang Berdaulat

MENELUSURI JEJAK KESULTANAN MANDAILING: IDENTITAS, SEJARAH, DAN KEKUASAAN LOKAL DI TANAH SELATAN TAPANULI

MENELUSURI JEJAK KESULTANAN MANDAILING: IDENTITAS, SEJARAH, DAN KEKUASAAN LOKAL DI TANAH SELATAN TAPANULI

HIKMA Sumut Desak Sekdaprov Cabut Surat Edaran Soal Pakaian Adat: “Mandailing Bukan Batak!”

HIKMA Sumut Desak Sekdaprov Cabut Surat Edaran Soal Pakaian Adat: “Mandailing Bukan Batak!”

Komentar
Berita Terbaru