Jumat, 14 Agustus 2026

Kekebalan Jangka Panjang Dipertanyakan, Antibodi COVID-19 Tak Bertahan Lama

Administrator
Jumat, 19 Juni 2020 08:01 WIB
Kekebalan Jangka Panjang Dipertanyakan, Antibodi COVID-19 Tak Bertahan Lama

JAKARTA, Halomedan.co

Penelitian tentang antibodi yang dilakukan oleh ilmuwan di Cina dan Amerika menyebut manusia mungkin tidak mengembangkan antibodi atau kekebalan virus Corona COVID-19.

Kesimpulan mereka didasarkan pada studi yang melihat apakah tenaga kesehatan di rumah sakit di Wuhan yang secara langsung terpapar Corona dari pasien yang terinfeksi mengembangkan antibodi COVID-19. Setidaknya telah ada lebih dari 23 ribu sampel virus yang diuji pada tahap tertentu tapi hanya 4 persen yang mengembangkan antibodi.

“Orang-orang mungkin tidak akan menghasilkan antibodi pelindung jangka panjang pada virus (COVID-19) ini,” tulis peneliti dalam makalah yang dipublikasikan di situs pracetak medRxiv.org dikutip dari South China Morning Post.

Diketuai oleh Wang Xinhuan dari Rumah Sakit Zhongnan Universitas Wuhan dan para ilmuwan dari University of Texas di Galveston, studi ini melihat sampel dari pekerja perawatan kesehatan dan staf rumah sakit. Mereka menemukan hanya 4 persen tenaga kesehatan dan 4,6 persen staf rumah sakit yang memiliki antibodi.

“Mereka yang terinfeksi bisa saja melawan virus dengan sistem kekebalan mereka sendiri,” sebutnya.

Banyak upaya yang dilakukan untuk memerangi pandemi ini salah satunya dengan asumsi bahwa antibodi akan melindungi orang yang telah terpapar dari infeksi ulang. Namun penelitian di Wuhan menunjukkan tidak semua orang yang terinfeksi memproduksi antibodi atau memilikinya dalam waktu lama.

Antibodi adalah molekul yang dihasilkan oleh sistem kekebalan untuk mengikat protein lonjakan virus dan menghentikannya dari menginfeksi sel. Beberapa antibodi seperti immunoglobulin G, atau IgG, dapat bertahan untuk waktu yang lama, seperti yang ditemukan pada pasien pernapasan akut (SARS) 12 tahun setelah mereka terinfeksi.

Dijelaskan bahwa pasien yang terkonfirmasi COVID-19 dan menunjukkan gejala cenderung menghasilkan antibodi lebih banyak. Tim juga menyebut bahwa lebih dari 10 persen orang dalam penelitian mereka mungkin kehilangan perlindungan antibodi dalam waktu kurang lebih sebulan.

Baca Juga:

Berdasarkan penelitian ini, mereka mengatakan tes antibodi mungkin tidak cukup untuk mengetahui apakah seseorang telah terinfeksi, dan keberadaan antibodi seperti IgG mungkin belum tentu memberikan kekebalan nantinya.

“Gagasan sertifikat kekebalan COVID-19 bagi pasien Corona yang sembuh sangat tidak valid,” tegasnya.(red)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Administrator
SHARE:
Berita Terkait
Dari Lapas kelas 1 Medan untuk Indonesia: Pramuka gudep 14.1387 Tegaskan dukungan terhadap Agenda Swasembada Pangan dan Indonesia Emas 2045

Dari Lapas kelas 1 Medan untuk Indonesia: Pramuka gudep 14.1387 Tegaskan dukungan terhadap Agenda Swasembada Pangan dan Indonesia Emas 2045

Jum’at Berkah Konco Ngopi: Dari Masjid Al Ma’sum Tebar Kepedulian, Konco Ngopi Jum’at Berkah Bukan Sekadar Berbagi, Tapi Membangun Kebersamaan

Jum’at Berkah Konco Ngopi: Dari Masjid Al Ma’sum Tebar Kepedulian, Konco Ngopi Jum’at Berkah Bukan Sekadar Berbagi, Tapi Membangun Kebersamaan

Makna Berbagi Berkah di Hari Jum’at

Makna Berbagi Berkah di Hari Jum’at

Dari Gerakan Ekonomi Syariah Menuju Kekuatan Ekonomi Nasional

Dari Gerakan Ekonomi Syariah Menuju Kekuatan Ekonomi Nasional

PDI Perjuangan Perkuat Konsolidasi di Samosir, Hasto Kristiyanto Akan Hadiri Peletakan Batu Pertama Kantor DPC Samosir

PDI Perjuangan Perkuat Konsolidasi di Samosir, Hasto Kristiyanto Akan Hadiri Peletakan Batu Pertama Kantor DPC Samosir

Komisi B DPRD Sumut Diduga Kecolongan, Ketua KTH Pantai Labu Firestey Disebut Eks Napi Kasus Curanmor

Komisi B DPRD Sumut Diduga Kecolongan, Ketua KTH Pantai Labu Firestey Disebut Eks Napi Kasus Curanmor

Komentar
Berita Terbaru